Perbedaan Menulis CV di Indonesia dan di Luar Negeri

By | August 14, 2012

Di Indonesia, kita sudah terbiasa sejak kecil untuk memberikan informasi-informasi yang tidak relevan untuk apapun. Dan kita selalu merasa diwajibkan untuk memberikan informasi-informasi tersebut.

Anda tidak setuju? Coba perhatikan jika anda apply kartu kredit, daftar untuk langganan telfon / internet, melamar pekerjaan, atau apapun, sudah layaknya mereka menanyakan agama anda, jenis kelamin, tanggal lahir, foto, hobi, nama orang tua…. Apa hubungannya?

Begitu juga dalam menulis CV. Umumnya di Indonesia kita harus melengkapi CV dengan:

  • Nama lengkap
  • Nomor telfon
  • Email
  • Alamat rumah
  • Foto
  • Jenis kelamin
  • Agama

Dan perusahaan sering sekali menanyakan gaji sekarang / sebelumnya. Di luar negeri, tepatnya di dunia barat, masyarakat mempunyai hak untuk tidak memberikan informasi-informasi tersebut.

Di CV saya, data-data pribadi yang saya berikan hanya nama, nomor telfon dan email. Sisanya ya skill, pengalaman, dan pendidikan. Saya berhak untuk tidak menjawab gaji saya sekarang dan sebelumnya jika ditanya.

Agak kesal juga, sewaktu saya pulang ke tanah air beberapa tahun lalu, iseng-iseng melamar pekerjaan. Belum apa-apa, saya sudah diwajibkan untuk mengisi form pelamar kerja sebanyak 3 atau 4 lembar, menanyakan hal-hal ini yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan yang saya lamar. Heran…. Selain tidak ada gunanya, buang-buang kertas, dan buang-buang waktu semua orang (saya sebagai pelamar dan mereka yang membaca).

Bagaimana menurut anda?

9 thoughts on “Perbedaan Menulis CV di Indonesia dan di Luar Negeri

  1. jolly

    benar sekali….tidak fokus dan terlalu bersifat personal…hahaha.

  2. ferry

    iya juga ya,alamat rumah,agama jenis kelamin kan ga perlu,yg perlu contact person..dosen saya jg pernah cerita kalo di amerika,data data tsb sifatnya sangat privacy,termasuk tanggal lahir,ga bole sembarang diumbar

  3. kharis

    saya ada setuju dan tidaknya dengan pendapat anda, kalau diluar memang sudah menjadi kebiasaan seperti itu. Yang menjadi masalah adalah budaya di luar berbeda dg disini, otomatis cara penilaian tntang seseorangpun berbeda. contoh nyatanya disini masih ada keyakinan, tingkat rajinnya seseorang trgantung dg daerah, jk dan agama seseorang jg menentukan nantinya akan diberi job apa, dsb
    jadi mungkin bisa saja separoh dr form itu memang ada tujuannya ditinjau dr segi psikologi dan cara penilaian perusahaan.

  4. Danny Williams Wongso

    Hi Mas Andryo,

    Such as ‘wow’ bisa tau blog ini :), untung baca kompas :p

    Dan langsung baca2 post mas sebelumnya, dan banyak memberi inspirasi pastinya. Apalagi usaha mencari recruiter/headhunter di linkedin (dg angka jujur itu) dan apply job (sebanyak angka jujur itu juga:p). Jadi malu saat ini berharap dicari headhunter/recruiter, harus lebih proaktif kl memang mau keluar dari comfort zone yg dibentuk ditempat kerja sendiri. Dan cari kerjaan baru juga ogah2an karena memang merasa blm saat tepat untuk mencari tempat baru.

    Yang google jg kebetulan lg buka 4 lowongan (info dr kompas tadi pagi) dan sudah mencoba iseng untuk apply LOL sepertinya ga dapat sih, ga sesuai background tapi penasaran :p sama prosesnya haha.

    Agree dengan post yang CV ini, setiap kali selalu gitu. Padahal sebelumnya kita ud diminta kirim CV dan diminta isi CV versi mereka. Kenapa ga sekalian…..

    Mau tanya kl berkenan dijawab :).

    Pernah dapat pertanyaan yang sebenarnya mereka juga ga tau “pertanyaannya” (pengalaman saya dulu pertanyaannya : “apa passion anda terhadap perusahaan ini?”, saya cm “heh?!” dan dalam hati “tau kah kamu apa itu passion?tiba2 ditodong passion to ur comp????”)?

    Atau terkadang yang nanya terlalu meremehkan kita (misalnya : “hahah kl disini 1 project saya rasa bisa 5-10 project tempat kamu”, dalam hati “ok find, tp gmn bs tau kl blm dijalanin dan kog rasanya saya merasa dia ahli cenayang:p”)? reaksi apa yg perlu kita keluarkan ya? haha.. Kalau dulu saya cm jd ‘ill feel’ dan menjawab dg ogah2an karena langsung ‘wew’, meskipun berusaha positif tp arah pertanyaan makin malesin haha.

    wah jadi panjang :p

    -danny williams-

  5. Dedy Black

    hahaha itu lah kenyataan di indonesia, hal-hal yang dianggap perlu tidak jadi prioritas sedangkan hal yang tidak perlu di utamakan

  6. sigit nugroho

    aku belum tahu perbedaan menulis CV di indonesia sama di aussie kayak gimana mas. setahuku yang aku pernah baca di beberapa media online termasuk situs pencari kerja kayak jobs db.com dan yang lainnya Indonesia memang rawan pas interview kerja di tanya soal gaji pas mau masuk kerja itupun dialami oleh para sarjana dan diploma di Indonesia yang akan berebut posisi pekerjaan tersebut. sayang banget padahal rahasia.

  7. Andryo Haripradono

    Mas Danny,

    Bener banget Mas, memang harus gila-gilaan usahanya. Life is a game of chances and numbers :)

    Untuk pertanyaan seperti “apa passion anda terhadap perusahaan ini?” Jawabannya biasanya tidak ada yang benar atau salah. Memang sudah harus dipersiapkan sih sebaiknya. Jika kita di posisi mereka, kita kan pasti mau mencari orang yang memang “passionate” untuk bekerja di perusahaannya. OK it is bullshit, but it is still good to hear hehe.

    Waduh.. kalau yang meremehkan seperti itu, lebih baik dipikir lagi apakah kita mau bekerja di bawah bos yang selalu meremehkan…

    Salam.

    Andryo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *